- Maukah kamu mencintaiku dengan penyakitku? AIDS (Acquired Immuno Deficiency syndrom) adalah sebuah penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia sehingga tubuh kita akan rentan terhadap segala macam penyakit. AIDS dianggap sebagai salah satu penyakit yang mematikan dan hingga saat ini belum ditemukan obatnya. Menurut data dari PBB, jumlah penderita AIDS di seluruh dunia diperkirakan mencapai 40 juta orang (VOAnews.com-22 Nov.2005), sungguh jumlah fantastis buat sebuah penyakit. Di Indonesia sendiri, jumlah penderita AIDS diperkirakan mencapai 130 ribu orang (ANTARA News, 19 Nov.2009).Menilik dari data di atas, kita semestinya waspada dan berusaha mencegah terjadinya penyebaran penyakit itu lebih lanjut. Namun usaha itu terkadang disertai dengan mencemooh bahkan mengucilkan mereka (penderita AIDS) dari pergaulan masyarakat. Informasi yang kurang tepat mengenai penyakit HIV/AIDS, membuat masyarakat menjauhkan diri dari penderita karena mereka takut tertular jika berdekatan dengan para penderita HIV/AIDS. Di samping itu, stigma yang berkembang di masyarakat bahwa penyakit ini berasal dari perbuatan amoral dan tidak bertanggung jawab penderitanya menambah faktor kebencian masyarakat atas penderitanya. Para penderita seakan dicabut hak asasinya dan terkadang mendapatkan perlakuan semena-mena masyarakat. Sungguh miris melihat ini, kita yang dilahirkan sederajat, harus menjadi berbeda karena sebuah penyakit.Mengutip pernyataan Sekretaris Komite Penangulangan AIDS (KPA), Dr. Farid HUsain (TEMPO Interaktif, 12 November 2002), "HIV bukan kasus moral, tapi ini adalah masalah kesehatan." Dari sinilah saya ingin bertanya pada anda dan diri saya sendiri, bisakah mereka mendapat cinta dari kita?
- Maukah kamu mencintaiku dengan tanganku menengadah?? Dibenak setiap orang, tidak terlintas dalam pikiran mereka untuk menjadi miskin. Tidak munafik jika kita semua di dunia ini mengharapakan menjadi orang kaya dan memperoleh penghidupan yang layak. Namun, keadaan berkata lain pada sebahagian besar orang. Mereka harus hidup terlunta-lunta dan mengharapkan belas kasihan orang lain demi sesuap nasi. Menurut Kepala Badan Pusat Statistik RI, DR. RUsman Heriawan (Tribunnews.com-Kamis, 1 Juli 2010), jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 31,02 juta jiwa. Sungguh jumlah yang besar mengingat sebenarnya negara kita adalah salah satu negara tersubur di dunia. Tapi mengapa taraf kehidupan masyarakat kita tidak pernah meningkat. Pantaslah jika mereka buta aksara karena mereka tak mampu lagi bersekolah. Pantaslah jika jumlah kriminalitas meningkat karena tuntutan hidup "merongrong" diri mereka. Pantaslah banyak warga yang sakit karena mereka tak mampu membiayai rumah sakit. Pantaslah mereka sedih karena hanya sedikit wakil rakyat mereka yang "menoleh" pada mereka. Ditambah lagi, denagn adanya pasal 40 pada BAB 8 mengenai ketertiban sosial yang melarang kita memberikan uang pada fakir miskin dan membeli barang dari pedagang asongan. Sungguh disayangkan denagn adanya aturan ini,disaat kita ingin berbuat baik kita terbentur oleh hukum yang diciptakan oleh aparatur negara kita. Menilik hal tersebut, masih adakah setidaknya sekeping uang 500 yang dapat kita berikan pada mereka?masih adakah rasa iba dalam hati kita semua?masih patutkah mereka mendapatkan cinta dari kita?
- Maukah kamu mencintaiku dengan memberikanku tempat tuk peristirahatan terakhirku? Kisah ini saya kutip dari sebuah thread di kaskus dengan alamat http://www.kaskus.us/showthread/.php?t=4968668. Kisah perjuangan seorang ayah yang harus menguburkan anaknya yang telah meninggal akibat penyakit muntaber dengan berjalan 10 km karena tak mampu menyewa mobil ambulans.Kisah berawal dari Supriono (seorang pemulung) yang membawa anaknya, Khaerunnisa" yang telah meninggal ke stasiun KRL dengan menggunakan gerobak tanpa ditutupi oleh sehelaikain kafan karena uang yang ia miliki hanya tinggal sekitar 6 ribu rupiah. Ia bermaksud memakamkan si kecil di Kampung kramat. Akan tetapi, ia terpaksa diturunkan dan dibawa ke kantor polisi karena ditakutkan anak tersebut adalah korban kejahatan. Sesampainya di kantor polisi, Supriyono bersikeras bahwa anaknya meninggal karena penyakit muntaber. Namun, polisi menyuruhnya membawa anaknya ke RSCM untuk diotopsi. Sesampainya di RSCM, Supriyono harus menunggu anaknya diotopsi dan menunggu keluarnya surat permintaan pulang dari RSCM. Perjuangan Supriyono tidak berhenti sampai disitu, setelah menunggu beberapa jam, akhirnya anaknya diperbolehkan dibawa pulang. Bukan karena proses otopsinya telah selesai, melainkan karena ia tidak mampu menyewa mobil ambulans Akhirnya Supriyono pun membawa anaknya dengan berjalan kaki dengan sumbangan seadanya menuju Bogor. Membaca kisah tersebut di atas, aku hanya berpikir apakah hati nurani para pejabat serta pegawai pemerintah telah mati atau mereka hanya mengikuti sistem yang berlaku?? Sungguh miris memang, tapi sekali lagi inilah yang terjadi di negeri kita. Dengan kisah tersebut di atas, kubertanya pada diri anda dan diriku sendiri, masih patutkah mereka menerima cinta dari kita? Cinta untuk seseorang yang hanya mengharapkan tempat yang tenang untuk peristirahatan terakhirnya. (p.m)



